Dilahirkan di desa Pangasean, Porsea Sumatera Utara pada 15 Juli 1943.Tarnama Sinambela berasal dari keluarga yang berada dan terpandang di desanya, namun hal itu tidak membuatnya manja, ia selalu hidup apa adanya dan tidak banyak menuntut., anak bungsu dari tujuh bersaudara ini dari kecil sudah dibiasakan untuk bekerja keras dan pantang menyerah. ia sangat sedih dengan keadaan sulitnya pendidikan pada masanya, dimana ia harus berjalan sejauh 10 km ke sekolahnya di desa Narumonda tanpa menggunakan sendal atau sepatu.

 

Beranjak remaja, berbekal ijazah SMA, dan uang hasil penjualan bebek peliharaannya  Tarnama Sinambela merantau ke Jakarta untuk mendaftar sebagai calon Taruna TNI Angkatan Udara di Lanuma Solo, namun karena adanya kasus memukul instruktur yang dibuat oleh seorang temannya, maka Sinambela pun kena getahnya dan dinyatakan gugur.

 

Tarnama Sinambela harus rela melepaskan cita-citanya tersebut, cita-cita yang sangat ia dambakan dari kecil.Namun Tarnama Sinambela tidak patah semangat, dengan tekad yang bulat membaja ia kembali ke Jakarta, kota yang menjanjikan bagi siapapun yang mau bekerja keras dan pantang menyerah.

 

Berbagai macam pekerjaan telah Tarnama Sinambela jalankan, dari menjadi pelayan hotel Indonesia sebagai Food & Beverage, Penyelundup Pakaian, Penyelundup Petasan, sampai menjadi asisten sekaligus murid dari  seorang Prof. Rooseno seorang ahli beton bertulang..

(more…)

Setiap langkah dan alur pikir Prof. Dr. Laurence Adolf Manullang selalu berpijak pada landasan yang kokoh. Dalam kaitannya dengan hormat pada orangtua, misalnya, baginya bukan sekedar asal hormat saja tetapi, lebih dari penghormatan atas dasar kesantunan tetapi atas dasar keimanan.
Sebagai orang yang beragama sikap hormat pada orang tua itu dia dasarkan atas keyakinannya kepada sepuluh hukum Tuhan (ten commandment). Dimana, hormat pada orang tua itu tertuang dalam hukum kelima. Tuhan berkata, sebagaimana tertulis dalam kitab Taurat Musa, Keluaran 20 ayat 12 yang berbunyi: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu.” Firman Tuhan itu berkata, ayahmu dan ibumu. Tidak disebut yang hidup saja, sebab ayah dan ibu yang sudah meninggalpun tetap ayah dan ibu kita.
Makanya, setelah Laurence dikaruniai anak-anak dan rejeki dia merehabilitasi tempat peraduan ayah dan ibunya, serta kakek-kakek dan neneknya (eyang) sampai enam keturunan terdahulu. Semua handai tolan dia undang sesuai dengan tradisi adat Batak yang berlaku untuk mendoakan dia, istri, dan anak-anaknya agar panjang umur dan melimpah rejeki.
Karena Laurence melakukannya didasarkan iman atas kebenaran firman Tuhan itu, dia menuai anugerah yang tidak terhingga. Sebab doa-doa orang tua, handai tolan yang penuh kesungguh-sungguhan itu memberkati Laurence, yaitu si yatim piatu yang juga ikhlas memberikan penghormatan yang tulus kepada orang tuanya dan kepada handai taulannya.
Bukan hanya itu dia juga ikut mempelopori pemugaran makam eyangnya si Raja Oloan dan ompung besar (Great Grand fathernya) Pamuharaja di Bakkara, bekas pusat kebudayaan Batak pada waktu pemerintahan Raja Sisingamangaraja I-XII. Pada saat itu di tahun 1989 dengan sangat mencengangkan, dihadiri oleh 12.000 orang keturunan si Raja Oloan yang berkumpul datang dari pelbagai pelosok Tanah Air, malah ada dari luar negeri sebab rindu pada kampung halaman dan mengenang leluhurnya.
Tidak bisa dielakkan, maka, terdapat mereka tiga putra terbaik dari keturunan si Raja Oloan yaitu KRH Tarnama Sinambela Kusumanegoro, Anton Sihotang, dan Prof. Dr. Laurence Adolf Manullang diberkati dan direstui oleh semua hadirin agar sehat-sehat dan panjang umur di rantau orang. Puncak acaranya adalah, kepada ketiganya disematkan sebuah tanda yang sangat bermakna untuk anak-anak yaitu, yaitu gelar “Anak Sibulang-bulangan”.
Laurence merasakan suasana pada saat itu sangat nikmat dan mengharukan. Pemerintah pun berkenan turut mengirimkan utusannya menghadiri peristiwa besar itu, seperti dari Bank Indonesia, Departemen Sosial dan Departemen Veteran. Bahkan, peristiwa itu tidak luput dari perhatian pers sebab sebuah surat kabar nasional edisi Medan yang paling netral, Waspada, secara khusus menurunkan berita bersambung berturut-turut selama enam hari.
Sebagai sebuah bukti otentik, Laurence menyerahkan utuh fotokopi ulasan Waspada tersebut kepada wartawan TokohIndonesia DotCom, yang antara lain menulis kalimat filsafat bermakna dalam mulak pinggan tusakkena, artinya kembali pinggan ke tatanannya. Jika diterjemahkan, dalam artian, bahwa secara berangsur-angsur keturunan si Raja Oloan telah pulih dan akan tiba saatnya untuk kembali berperan aktif dalam pembangunan bangsa menegakkan visi dan misi eyangnya dari si Raja Oloan, Raja Sisingamangaraja, dan Pamuharaja.
Demikian juga di tahun 1997, kejadian sama terulang pada saat Laurence dipilih khusus sendirian untuk kembali digelari Anak Sibulang-bulangan, yang dirasakannya lebih mengharukan lagi. Seorang perantau Dr. Gison Manullang yang belum pernah pulang kampung, dia menikah dengan seorang wanita keturunan Cina, tak kuasa untuk turut menuturkan pengamatannya mengisahkan gambaran bagaimana terjadi sebuah peristiwa unik segera usai Laurence Manullang dibulang-bulangi.
Gison mengisahkan, sebagaimana sudah pernah diuraikan dan dimuat di majalah BF terbitan tahun 1997, adalah pasti akan terjadi tanda-tanda yang biasa terjadi di Bakkara dalam upacara seperti itu bila yang menerima bulang-bulang itu adalah orang tepat, rendah hatinya, bersih hatinya, dan mulia niatnya. Dan benar sja terjadi demikian, yaitu, dimulai dengan turunnya hujan kapas, angin sepoi-sepoi, disusul dengan angin kencang, angin puyuh, batang-batang pisang tercerabut, lalu disudahi hujan lebat dan semuanya itu hanya terjadi dilokasi upacara saja.
Ketika di malam hari angin sejuk dan kilau bintang menyapa villanya di kawasan Coolibah, Puncak, Bogor, Jawa Barat. Top Eksekutif Keuangan Dunia ini melanjutkan janjinya wawancara dengan wartawan Tokoh Indonesia juga menanyakan bagaimana perasaannya menyaksikan dan mengalami langusng peristiwa alam itu terjadi, Laurence mengatakan biasa saja. “Tetapi, memang, saya datang ke sana hanya dengan satu tujuan yaitu meminta doa dari khalayak ramai,” sebut Laurence, yang selama hidupnya merasakan selalu mendapat kekuatan karena doa restu dan kasih sayang dari para orang tua dan sesepuhnya.
Laurence lalu menjelaskan dua peristiwa penting yang pernah terjadi pada nenek moyang manusia, yaitu pada zaman Nuh.
Anak-anak Nuh yang keluar dari bahtera setelah air bah surut, adalah Sem, Ham dan Jafet. Pada suatu hari Nuh meminum anggur dan mabuk dan dia telanjang dalam kemahnya. Ham melihat ayahnya telanjang, dan melihat aurat ayahnya, namun tidak melakukan sesuatupun kecuali menceritakan kepada kedua saudaranya di luar. Lalu dengan bergegas Sem dan Jafet mengambil kain menutupi tubuh ayahnya. Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang terjadi, Nuh berkata, “Terkutuklah Ham Bapak Kanaan, ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya. Terpujilah Tuhan, Allah Sem tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba-hamba baginya. Allah kiranya meluaskan tempat kediaman Jafet. Hendaklah ia tinggal dalam kemah-kemah Sem tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya.”
Ketiga anak Nuh ini tersebar diseluruh dunia, Sem-menurunkan Asia, Ham-menurunkan Afrika, dan Jafet-menurunkan Eropa/AS. Kutukan dan berkat Nuh, si orang tua, itu masih dirasakan oleh keturunannya sepanjang zaman malah sampai di akhirat.
Pelajaran yang kedua, kata Laurence adalah pengalaman Esau dan Jakob anak Nabi Ishak cucunya Ibrahim dari menantunya Sarah.
Jakob memohon berkat dari ayahnya Ishak dan dia memperolehnya, walaupun dengan menipu. Esau yang sulung, dilangkahi titip berkat yang sempat tidak bisa dicabut. Akhirnya Jacob menjadi Israel dan Esau mengawini perempuan Palestina dan merantau sampai ke Timur dan menurunkan 8 suku bangsa di Timur, yaitu: Karen, Igorot, Bentok, Meo, Wajo, Tayal, Toraja, Syam-syam; dimana orang Batak adalah keturunan Meo; yang masih dalam penelitian saat ini.
Selanjutnya Laurence membacakan ayat-ayat mengisahkan kedua putra Isak itu, sbb: “Berkatah Ribka kepada anaknya Jakob, telah kudengar ayahmu berkata pada Esau, kakakmu: Bawalah bagiku seekor binatang buruan dan olahlah bagiku makanan yang enak, supaya kumakan dan supaya aku memberkati engkau di hadapan Tuhan sebelum aku mati. Maka sekarang anakku dengarkanlah perkataanku seperti kuperintahkan padamu. Pergilah ke tempat kambing domba kita, ambillah dari sana dua anak kambing yang baik, maka aku akan mengolahnya menjadi makanan yang enak bagi ayahmu, seperti digemarinya. Bawalah itu kepada ayahmu, supaya dimakannya, agar dia memberkati engkau. Sebelum ia mati. Lalu kata Jakob kepada Ribka ibunya: tetapi Esau, kakakku adalah seorang yang berbulu badannya sedang aku ini kulitku licin. “
Mungkin ayahku akan meraba aku, maka nanti ia akan menyangka bahwa aku mau memperolok-olok dia: dengan demikian aku akan mendatangkan kutuk atas diriku bukan berkat. Ibunya berkata, biar ibu yang menanggung kutuk apabila itu terjadi. Lalu Jakob mengambil domba, diberikan kepada ibunya dikelola jadi makanan untuk dipersembahkan pada ayahnya.
Jakob membawa makanan itu dan memberikan pada ayahnya dan Ishak berkata: Dekatkanlah makanan itu kepadaku, supaya kumakan daging buruan masakan anakku, agar aku memberkati engkau. Ishak selanjutnya mengucapkan berkat pada anaknya Jakob yang menyamar seakan-akan kakaknya Esau. “Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang diberkati Tuhan. Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk dibumi dan gandummu serta anggur berlimpah-limpah.
Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu. Jadilah tuan atas saudara-saudaramu dan anak-anak ibumu sujud kepadamu, siapa yang menyulitkan engkau terkutuklah ia, siapa yang memberkati engkau akan diberkatilah dia. Jakob telah diberkati ayahnya, dimana kemudian Jakob tukar nama jadi Israel. Dan secara individu orang Israel telah diberkati Tuhan, walaupn sebagai bangsa karena mendurhaka pada Tuhan telah sempat dikutuk Allah”.
Laurence menyebutkan, karena Esau merasa tertipu oleh adiknya Jakob, Esau memburu adiknya. Tapi akhirnya Jakob yang kemudian bernama Israel dan keturunannya pindah ke Mesir diperhamba di negeri itu beratus tahun. Sedangkan Esau menikahi perempuan Palestina, bermukim di tanah Sier, Edom dan keturunannya berkembang sampai ke Timur dan menurunkan delapan suku bangsa dimana salah satunya yaitu Meo menurunkan orang Batak yang sedang dalam proses penelitian oleh Lauence Manullang.
Jelaslah bahwa berkat orang tua itu sangat penting dan merupakan cikal bakal kebahagiaan, panjang umur. Jadi, hormat pada orang tua adalah merupakan bagian dari iman Laurence A. Manullang. Walaupun orang tua kita pernah berlumuran dengan kesalahan dan dosa, tetapi mereka tetap orang tua kita yang menurut Tuhan sebagai sumber berkat pada anak-anaknya.
Selanjutnya ada tertulis, doa anak-anaknya juga dapat menyelamatkan ayah dan ibunya, sebab Tuhan maha kasih mendengar seruan dan isak anak-anaknya untuk siapapun yang meminta pengampunan.
Malam semakin larut. Laurence Manullang menyimpulkan bahwa pengalaman hamba-hamba Tuhan yang tertulis dalam kitab suci itu menjadi pelajaran baginya. Sebelum beranjak pergi untuk beristirahat tidur, Laurence menyebutkan karena pengalaman demikian itulah membuatnya tidak pernah lupa membawa istri dan anak-anaknya untuk meminta berkat dari ompung yang sangat berjasa baginya pada saat masih hidup, melakukan apa yang disebut acara Manulangi. ?e-ti => Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Part of royal family
Mission president, wife adopted in formal ceremony
January 27, 2007
By Julie Dockstader Heaps
Church News staff writer

JAKARTA, Indonesia — Humanitarian relief efforts to alleviate suffering after a tsunami and an earthquake devastated this area of the world have increased the visibility of the Church in Indonesia and brought priesthood leaders to the forefront of many community events.
This was never more apparent than on Saturday, Jan. 20, in Jakarta when President Dean C. Jensen of the Indonesia Jakarta Mission and his wife, Jean, were adopted into the nation’s royal family. In a formal, four-hour ceremony that included a military guard, traditional Indonesian dancing and music, President Jensen was given the name Dean C. Jensen Sinambela as he was adopted into the family of Dr. Kanjeng Pangeran Tarnama Sinambela, a descendant of the famous Batak King Sisingamangaraja XII, who lived in the late 1800s.
Sister Jensen was also adopted into the royal family through Dr. Sinambela’s wife’s father’s family and given the name of Jean Jensen br. Marpaung.”Most of the recognition we have received in being adopted into this royal family is the result of the humanitarian efforts of the Church to assist the Indonesian people who have suffered in recent years,” President Jensen told the Church News. “We are deeply honored for this recognition, but realize that the recognition really goes to every member of the Church who helped by contributing a generous fast offering and by the many Church members and leaders in Indonesia who have assisted with His work.
“President Jensen, who originally began serving in Indonesia with his wife as a senior missionary couple until his calling as mission president in 2004, explained how their adoption into the royal family came about. After the May 2006 earthquake destroyed thousands of homes in Indonesia, President Jensen was asked to speak at a news conference upon the arrival of a cargo jet of relief supplies sent by the Church in partnership with Islamic Relief Worldwide and the Media Group, a group of local businesses owned by Surya Paloh, who also heads a relief organization called Yayasan Sukma.During later connections to Yayasan Sukma, Mr. Paloh invited President Jensen and Elder Subandriyo, an Area Seventy, to attend a grand opening for schools. During that meeting, President Jensen and Elder Subandriyo met Dr. Sinambela, who owns a university, called Universitas MPU Tantular. Then, in November 2006, President Jensen was invited to address some 500 graduates of Dr. Sinambela’s university.
Through these meetings, President and Sister Jensen were invited to become part of the Sisingamangaraja Sinambela family.President Jensen emphasized the good name of the Church in Indonesia. He expressed gratitude for the efforts of Elder Subandriyo and Elder Tom Palmer, the LDS Charities country director in working with governmental groups in providing humanitarian relief. “Consequently, when the tsunami hit Indonesia the end of December 2004, the Church in Indonesia was quick to provide assistance.”The subsequent relief efforts by the Church’s humanitarian department and ongoing restoration projects have contributed to keep the good name of the Church in the public eye in Indonesia.” — Julie Dockstader Heaps

Dia potret anak bangsa yang terkenal gigih, ulet dan pantang menyerah hingga meraih sukses. Pengusaha, pendiri dan pemilik PT Sumber Batu Group ini, selain sukses sebagai pengusaha, juga sangat peduli pada pengembangan budaya, pendidikan dan kerohanian. Tak heran bila putera berdarah Batak ini memperoleh Gelar Kehormatan Kanjeng Raden Hario Tumenggung (KRHT) dari Keraton Solo, Surakarta, serta sejumlah penghargaan lainnya.

Dia adalah pendiri sekaligus pimpinan tertinggi PT Sumber Batu Group, sebuah kelompok usaha jasa konstruksi yang sejak awal pendirian tahun 1970 dikenal berkiprah banyak di lingkungan proyek-proyek pembangunan fisik, terutama jalan dan jembatan. Dia juga mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan, mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi, di bawah bendera Yayasan Budi Murni.

Seiring keberhasilannya berbisnis, dia pernah dua kali diusulkan sebagai calon Gubernur Sumatera Utara, yaitu pada tahun 1982 dan 1992. Profil tentang dirinya berjudul “Pantang Menyerah” diluncurkan pada tahun 1996. Sebuah buku yang mengukir perjalanan hidupnya yang pantang menyerah hingga meraih sukses.

Dia menjadi pengusaha sukses melalui proses alamiah yaitu tumbuh dan berkembang dari bawah. Berkapital secukupnya bertekad baja dan pantang menyerah lalu bekerja keras dan jujur meraih keberhasilan. Kehadirannya persis saat Jakarta sedang membutuhkan banyak pengusaha jasa konstruksi untuk menata Ibukota Negara menjadi kota metropolitan baru yang ramah terhadap penduduk dan lingkungan.

Dia adalah Tarnama Sinambela bungsu dari tujuh bersaudara yang lahir pada tanggal 16 Juli 1943 di sebuah perkampungan yang tenang, Desa Pangasean, Porsea, Sumatera Utara. Suami dari Damaris br. Tampubolon ini adalah ayah dua orang anak dan kakek beberapa orang cucu yang memimpin PT Sumber Batu Group, perusahaan jasa konstruksi terkenal rekanan Pemda DKI Jakarta.Berbagai pekerjaan pembuatan maupun perbaikan jalan, jembatan, trotoar, pengairan, saluran irigasi, bangunan gedung dan berbagai jasa sipil lain bahkan hingga ke pengujian asap kendaraan bermotor pernah dia terima dari Pemda DKI Jakarta sejak awal tahun 1970-an. Setelah bertengger di puncak kesuksesan dia tak lupa menoleh ke bawah. Yayasan Pendidikan Budi Murni pengelola Universitas Mpu Tantular (UMT) dan sejumlah sekolah TK, SD, SMP, SMA, STM, dan SMEA Budi Murni dia dirikan sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat luas yang membutuhkan pendidikan maju. Dia ingin seluruh masyarakat mempunyai akses terbuka terhadap pendidikan, tidak seperti dirinya dahulu kala.Dia ingat ketika masih tinggal di Desa Pangasean, Porsea, Sumatera Utara tiap hari harus berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju sekolah SMP di Narumonda. Ketika SMA dia harus tinggal di rumah kakak sulungnya di Medan sebab pendidikan sejenis belum tersedia di Pangasean. Itu belum cukup.

Untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke universitas dia harus menunggu selama sepuluh tahun. Dia baru berkesempatan duduk di bangku kuliah setelah mempunyai istri, dua orang anak, dan memimpin CV Budi Mulya sebagai direktur. Dia ingin agar apa yang pernah menimpanya dahulu, seperti hidup sebagai anak petani di desa terpencil dengan sumber pendapatan yang terbatas ditambah akses pendidikan yang tidak tersedia jangan lagi menimpa generasi angkatan baru masa mendatang. Kesuksesan dia berjuang menaklukkan rimba Metropolitan Jakarta hingga ke tanah Keraton Kasunanan Surakarta yang mengangkatnya sebagai saudara sekandung dan karenanya berhak menyandang gelar kebangsawanan, adalah bukti lain kesungguhan perantau Batak ini sebagai anak bangsa yang menjunjung tinggi keberagaman di bumi Indonesia. Melihat begitu intens dan besarnya kontribusi yang pernah dia berikan terhadap kemajuan kehidupan sosial keagamaan, menjadikan cerita menarik bahwa dahulu dia bekerja 16 jam sehari namun setiap hari Minggu tak boleh terlewatkan tanpa berbakti kepada Tuhan di Gereja, adalah bukan isapan jempol belaka.

Pengusaha yang kuat ini ditopang oleh seorang istri yang kuat pula di belakang yakni Damaris br. Tampubolon. Mereka berdua biasa bertemu muka selalu hanya pada saat bersentuhan dengan Tuhan di Gereja. Mereka menikah tahun 1963 saat usia dia masih 20 tahun, atau hanya dua tahun setelah menginjakkan kaki di Jakarta dengan status pekerja Hotel Indonesia sebagai Food & Beverage Manager. Istri yang kuat yang menopang keberhasilan suami tanpa kompromi tanpa pamrih dan tanpa tedeng aling-aling itu setahun kemudian atau 8 April 1964 “menghadiahkan” dia seorang anak laki-laki diberi nama Budi Parlindungan Sinambela. Hanya dalam usia dua tahun perkawainan tepatnya 18 Oktober 1965 kembali hadir anak lelaki kedua sekaligus yang terakhir, Santo Mulya Parulian Sinambela. Kombinasi nama kedua buah hati itulah yang melahirkan entitas bisnis pertamanya CV Budi Mulya, berdiri tahun 1970, berkantor di Inter Hotel, Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta Pusat. Kehadiran CV Budi Mulya, yang belakangan berubah nama menjadi PT Budi Mulya Jaya dibawah kendali Budi Parlindungan Sinambela, cikal bakalnya dimulai sejak tahun 1969 saat dia memulai usaha kecil-kecilan leveransir bahan bangunan.

Dia waktu itu melayani kebutuhan berbagai bahan bangunan untuk keperluan kegiatan pekerjaan perusahaan-perusahaan jasa konstruksi yang sedang giat-giatnya membangun Kota Jakarta seperti perbaikan jalan, saluran, jembatan, hingga ke perbaikan perkampungan di seluruh wilayah Jakarta. Jakarta ketika itu dipimpin oleh Letnan Jenderal Marinir Ali Sadikin Gubernur DKI Jakarta periode tahun 1966-1977. Ali Sadikin adalah gubernur paling berhasil sepanjang sejarah Kota Jakarta yang sukses membangun Jakarta baik secara fisik maupun mental masyarakat. Untuk menyulap Kota Jakarta yang masih kumuh dan tak lebih seperti perkampungan menjadi kota metropolitan baru yang disegani oleh dunia internasional, Ali Sadikin ketika itu membuka kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pengusaha jasa konstruksi turut serta menjadi pelaksana pembangunan sarana dan prasarana perkotaan. Seperti yang dia amati, Jakarta ketika itu aktif melakukan pembangunan jalan raya, jembatan, saluran irigasi, bangunan gedung, dan berbagai pekerjaan sipil lainnya.

Pebisnis leveransir bahan bangunan itu menjadi ingin mengikuti jejak langkah para kenalannya dari perusahaan jasa konstruksi yang dia suplai. Jabatan manajer di Hotel Indonesia dia lupakan untuk menjadi seorang enterpreneur baru. Usaha leveransir yang dia rintis telah membuka akses kepadanya untuk berhubungan serta bergaul akrab dengan para petinggi perusahaan konstruksi. Akses itu dirasakannya cukup sebagai modal untuk menetaskan sebuah entitas perusahaan jasa konstruksi baru milik sendiri. Itulah CV Budi Mulya, yang dalam usia satu tahun pertama telah dipercaya memperoleh sekaligus menyelesaikan tiga kontrak pekerjaan pembangunan gedung di Jakarta, tahun 1971. Karena dia merantau ke Jakarta sesungguhnya adalah untuk meneruskan pendidikan tinggi, dan rencana itu telah tertunda selama 10 tahun, maka, di tahun 1971 ketika kesempatan tersedia dia langsung memasuki Universitas Tujuhbelas Agustus 1945 (Untag). Saat itu usia dia sudah menginjak 28 tahun. Dia tetap genjot laju perusahaan dari pagi hari pukul 07.30 hingga sore 14.30 WIB, lalu sejak pukul 16.00 hingga larut malam pukul 21.00 WIB dia duduk di bangku kuliah Fakultas Ilmu Administrasi Niaga, Jurusan Ketataniagaan Untag. Dia tidak merasa letih bekerja sambil kuliah. Sebab sebelumnya dia telah pula pernah bekerja di dua tempat sekaligus dalam satu hari untuk jangka waktu lama. Yaitu di Hotel Indonesia sebagai manajer dan di proyek pembangunan gedung Sarinah sebagai pelaksana, keduanya di Jalan MH Thamrin Jakarta. Di tahun 1962 itu sebagai Food & Beverage Manager Hotel Indonesia dia bekerja mulai pukul 07.30 hingga 15.00 WIB, lalu usai itu dia langsung bergegas ke seberang menuju proyek gedung Sarinah. Kesediaan dia bekerja rangkap ketika itu mengikuti ajakan pakar beton bertulang Prof. DR. Ir. Roosseno, pimpinan proyek gedung Sarinah.

Kedua anak bangsa ini pernah berkenalan dalam posisi yang berbeda. Dia sebagai pekerja hotel yang melayani tamu sedangkan Roosseno tamu yang sering mengunjungi Hotel Indonesia. Tentang dia, Roosseno di tahun 1985 pernah berujar telah mengenal dia sejak tahun 1972 sewaktu masih bekerja di Hotel Indonesia, Jakarta. Orangnya masih muda dan kurus belum gemuk. Roosseno selanjutnya menyebutkan mengajak dia bekerja rangkap di proyek pembangunan pusat pertokoan Sarinah, Jakarta. “Dengan kemauan yang keras didukung oleh fisik yang masih muda, dia sanggup bekerja pada dua tempat pekerjaan walaupun untuk itu dia harus bekerja siang dan malam,” begitu kesaksian Roosseno yang menjadi guru sekaligus ayah pembimbing bagi dia, serta sebagai pembantu setia sebagai bendahara umum di kepengurusan BPP Gapensi yang dipimpin Roosseno ketika itu. Maka, mengikuti bimbingan sang guru dia bekerja seringkali hingga larut malam. Selain dia maksudkan untuk menggali ilmu konstruksi juga untuk menunjukkan rasa hormatnya terhadap pimpinan proyek yang selalu mengajari dia bagaimana bekerja keras sekaligus bertanggung jawab pada setiap pekerjaan konstruksi. Proyek Gedung Sarinah adalah pekerjaan sipilnya yang kedua. Sebelumnya di tahun 1961, persis di awal pertamakali dia menginjak Jakarta, sebagai pekerja asisten pelaksana PT Pembangunan Perumahan dia mengerjakan proyek pembangunan gedung Hotel Indonesia. Di situ, tak lama kemudian karirnya meningkat sebagai pelaksana proyek yang bertanggungjawab terhadap pemakaian material dan pengerahan tenaga kerja harian. Dia menjadi unik hotel kebanggaan Bung Karno ini.

Pertama kali dia bekerja sebagai pelaksana pembangunan gedung, lalu setelah selesai melamar dan menjadi manajer pada hotel yang dia bangun itu. Perjuangan dia menyetarakan diri dengan peradaban modern lewat bangku kuliah berlangsung hingga tahun 1976. Di tahun itu dia diwisuda untuk berhak menyandang gelar sarjana penuh pada disiplin ilmu ketataniagaan. Dia pun semakin melangkah mantap mengembangkan usaha jasa konstruksi, terutama lewat CV Sumber Batu yang telah dia dirikan di tahun 1972. Sedangkan pengelolaan CV Budi Mulya dia serahkan sepenuhnya kepada istri Damaris br. Tampubolon. CV Sumber Batu hingga tahun 1974 berhasil menyelesaikan 18 kontrak pekerjaan senilai tak kurang Rp 223 juta, sebuah angka yang sudah cukup besar ketika itu untuk perusahaan sekelas CV berkualifikasi rendah. Untuk semakin membuka peluang mencari proyek baru dia mengubah status badan hukum usahanya menjadi perseroan terbatas, PT Sumber Batu sejak 6 Agustus 1974. Dia sekaligus menaikkan kualifikasi perusahaannya yaitu menjadi Kelas C untuk pekerjaan bangunan gedung, Kelas B untuk pekerjaan bangunan air, dan Kelas D untuk pekerjaan jembatan. Bangun Asphalt Mixing PlantDalam empat tahun pertama berstatus perseroan hingga tahun 1978 PT Sumber Batu berhasil menyelesaikan pekerjaan sebanyak tujuh kontrak senilai Rp 744 juta. Di tahun 1978 itu pula berdasarkan kajian serta perhitungan yang cermat dan cerdas dia mendirikan satu unit pabrik penghasil aspal beton hotmix, atau Asphalt Mixing Plant dilengkapi sejumlah alat-alat berat pendukung.

Total investasi Rp 1,750 miliar sebuah investasi mahal berjangka panjang ketika itu. Bersamaan itu dia semakin boleh berbangga hati sebab perusahaanya PT Sumber Batu diizinkan naik ke kelas tertinggi. Predikat Kelas A memungkinkan perusahaan jasa konstruksi seperti Sumber Batu berhak mengerjakan proyek-proyek konstruksi apa saja tanpa batasan nilai proyek. Keteguhan sekaligus keberanian dia menjadi produsen aspal beton hotmix adalah lompatan baru dalam hal modernisasi teknologi pembangunan fisik. Hotmix sangat praktis digunakan untuk memperkuat konstruksi jalan raya, landasan pesawat terbang, pelataran parkir, dermaga pelabuhan, maupun berbagai keperluan lain. Penggunaan hotmix sangat sesuai untuk pekerjaan bervolume besar sebab hotmix sangat praktis digunakan sehingga efisien dan pengerjaannya tidak butuh waktu lama.

Kualitas jalan raya yang dihasilkan pun mampu mendukung beban berat seperti pada jalan raya kelas satu, atau pada pelataran kontiner, dan sebagainya. Aspal hotmix dia yakini bukan hanya bisa diandalkan untuk mengejakan proyek-proyek pemerintah namun setiap proyek swasta pun layak memanfaatkan produk teknologi modern pengaspalan ini. Hanya berselang setahun, sejak tahun 1979 Pemda DKI Jakarta menunjuk PT Sumber Batu sebagai salah satu produsen hotmix yang diperkenankan menangani pekerjaan perawatan rutin jalan-jalan raya di seluruh wilayah Jakarta. Tahun 1980 Sumber Batu berhasil menyelesaikan sembilan pekerjaan hotmix dan tujuh pekerjaan bangunan air senilai Rp 1,332 miliar. Di tahun 1980 ini pula dia kembali mendirikan satu tambahan Asphalt Mixing Plant dilengkapi alat berat dan laboratorium total investasi Rp 2,500 miliar, lokasi di Jalan Raya Bekasi KM 23,5, Cakung, Jakarta Timur. Kapasitas produksi hotmix meningkat dari 300 ton menjadi 600 ton perhari. Kedua unit Asphat Mixing Plant tersebut di tahun 1981 berhasil menyelesaikan 11 kontrak pekerjaan senilai Rp 1,012 miliar. Kepercayaan Ditjen Bina Marga menyerahkan pekerjaan peningkatan jalan raya Jakarta-Tangerang-Merak dia jawab dengan pendirian satu Asphalt Mixing Plant baru persis di lokasi proyek di Cikande, Jawa Barat, November tahun 1981. Selama tahun 1981-1982 Sumber Batu berhasil menyelesaikan 23 kontrak pekerjaan senilai Rp 3,724 miliar.Dalam perjalanan waktu kemudian dia masih mendirikan beberapa Asphalt Mixing Plant baru di setiap lokasi proyek yang ditangani. Seperti yang dia dirikan di tahun 1985 di Kotanopan, Sumatera Utara untuk menunjang pelaksanaan pelebaran jalan Jembatan Merah-Ranjau Batu senilai Rp 3,700 miliar. Demikian pula di Cirebon, juga tahun 1985, untuk menunjang proyek pelebaran jalan Dawuhan Kalijaga, Cirebon senilai Rp 2,300 miliar. Selain mendirikan Asphalt Mixing Plant di kedua proyek Kotanopan dan Cirebon itu, dia melengkapi pula mesin pemecah batu atau Stone Crusher masing-masing satu unit. Di tahun 1986 mesin serupa pemecah batu stone crusher dia dirikan di site plant Cakung, Jakarta Timur. Kisah sukses pendirian pabrik hotmix yang memberinya keuntungan besar serta membuka peluang untuk memenangkan tender mengilhami dia untuk juga mendirikan pabrik beton concrete batching plant. Pabrik beton itu mulai dia dirikan di tahun 1984 dilengkapi 10 truck mixer yaitu truk pengangkut beton ke lokasi proyek, serta satu unit laboratorium beton. Total menelan ivestasi Rp 1,200 miliar. Dia jeli meneropong jauh ke depan. Naluri bisnisnya yang sudah terasah tajam memberinya sikap mafhum bahwa pembangunan fisik di Indonesia yang sedang gencar akan tetap gencar dan pasti membutuhkan jutaan meter kubik beton. Beton itu sangat dibutuhkan untuk pembangunan gedung pencakar langit mulai dari pekerjaan pondasi hingga struktur gedung. Demikian pula beton untuk pembangunan jembatan, trotoar, penurapan saluran air, irigasi, dan berbagai pekerjaan sipil lainnya yang membutuhkan beton. Kebutuhan beton itu bukan hanya untuk setiap proyek yang dia tangani, melainkan semua perusahaan jasa konstruksi lain yang belum mempunyai concrete bathing plant boleh memesan beton kepada dia. Tak butuh waktu lama, pada 1 Maret 1985 produksi pertama beton siap pakai (readymix) miliknya mulai meluncur digunakan sendiri pada proyek yang dikerjakan Sumber Batu. Pilihan mendirikan pabrik aspal hotmix, beton, dan stone crusher berinvestasi besar menunjukkan salah satu sisi lain dari jati diri dia yang sesunguhnya. Yaitu selalu ingin sejajar dengan kemajuan teknologi pembangunan fisik. Dia tidak mau disebutkan tertinggal dari orang lain kendati berasal hanya dari sebuah desa kecil, Pangasean, Porsea. Untuk menunjukkan totalitas keterlibatannya membangun Jakarta sejak 1 Mei 1980 dia menerima keputusan Kepala DLLAJR DKI Jakarta yang menunjuk PT Sumber Batu sebagia pelaksana pengujian asap kendaraan bermotor. Dia juga diperkenankan melakukan perbaikan seperlunya terhadap setiap mesin kendaraan yang proses pembakaran sudah tidak sempurna. Dia tidak sendiri tetapi ditopang oleh Lembaga Ekologi Universitas Pajajaran Bandung untuk melakukan upaya pengendalian pencemaran udara di kota besar seluruh Indonesia. Dengan lembaga itu dia bekerjasama mengumpulkan data-data analisa untuk memperoleh gambaran yang lengkap guna merencanakan usaha pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup. Karena kepedulian dia terhadap kelestarian lingkungan itu pada Maret 1981 dia berkesempatan beraudiensi dengan Wakil Presiden Adam Malik untuk melaporkan kegiatan pengujian asap kendaraan bermotor berikut usaha penanggulangan pencemaran udara. Saat itu juga Adam Malik langsung memberi petunjuk dan pengarahan tentang usaha penanggulangan pencemaran udara yang telah dia rintis. Jenis dan skala usaha yang meluas membutuhkan beragam barang cetakan seperti formulir, daftar isian, surat-surat, buku-buku, kwitansi, map dan sebagainya yang jumlahnya cukup besar. Sejak Mei 1984 dia lagi-lagi memasuki area bisnis baru yaitu percetakan. Dia menghadirkan seperangkat lengkap alat percetakan, yaitu masing-masing satu unit mesin cetak Fuji Offset, mesin potong kertas, plate maker, dan mesin letter press. Mesin cetak ini dia maksudkan untuk melayani kebutuhan barang cetakan di PT Sumber Batu, Yayasan Pendidikan Budi Murni, dan Universitas Mpu Tantular namun tak tertutup kemungkinan memenangkan kontrak-kontrak pekerjaan cetakan dari luar dalam jumlah besar.Terjun ke pendidikanDia adalah bungsu dari tujuh bersaudara yang lahir tepat pada tanggal 16 Juli 1943 di sebuah desa yang tenang, Desa Pangasean, Porsea, Toba Samosir, Sumatera Utara. Dia lahir di tengah-tengah sebuah keluarga petani kecil yang untuk menambah penghasilan saja satu-satunya peluang yang tersedia adalah memelihara beberapa ekor kerbau, bebek, dan ayam.

Ayahnya memberi dia nama Tarnama agar penggembala kerbau di masa kanak-kanak itu suatu saat bisa hidup sama seperti namanya yaitu terkenal, atau ternama dimana-mana karena kebaikan, ketokohan, dan kisah suksesnya. Dan itulah yang sesungguhnya telah terjadi pada diri Tarnama.Padahal, dahulu setamat SMA di Medan tahun 1961 dia pulang ke kampung Pangasean untuk memohon izin merantau ke Jakarta hanya dibekali dua hal. Bekal pertama selembar ijazah SMA berikut sedikit uang hasil penjualan seekor kerbau yang sebelumnya sudah akrab dia gembalakan. Dan bekal kedua adalah spirit berupa perumpamaan khas Tapanuli, ‘Ulosi nasa tungko-tungko sai adong doi hangoluanmu. Saongi angka dalan dapot ho do na tonggi dalan pasu-pasu’. Artinya, ‘Manfaatkanlah rezeki sekecil apapun itu sebelum cita-cita tercapai sebab jika dikumpulkan akan menjadi banyak dan dapat menjadi jalan kehidupan. Kemudian tanamlah kebaikan di dalam kehidupan agar beroleh rezeki dari sesama manusia dan beroleh yang manis atas jerih payahmu.’Salah satu sebab setiap kali dia melebarkan sayap usaha adalah karena dibangkitkan oleh semangat yang bergelora. Yaitu semangat untuk membantu menyediakan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya. Dan bersamaan itu dari sisi yang lain dia bersemangat pula untuk mendirikan sekolah maupun lembaga kursus untuk menyiapkan generasi yang lebih maju yang kelak mudah memperoleh pekerjaan. Pada tahun 1976 Tarnama sudah mendirikan Yayasan Pendidikan Budi Murni yang menyelenggarakan pendidikan mulai TK, SD, SMP, SMA, SMEA, dan STM. Kemudian di tahun 1983 dia mendirikan Lembaga Penunjang dan Peningkatan Pendidikan (LP3) serta mengadakan kerjasama dengan Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia, Jakarta. Tahun 1984 adalah awal dia mulai memasuki dunia pendidikan tinggi saat mendirikan Universitas Mpu Tantular (UMT). Di tahun itu juga dia mengadakan kerjasama dengan sebuah lembaga pendidikan tinggi asing Jhon Dewey University, dari Amerika Serikat.

Lembaga lain yang dia dirikan adalah Lembaga Pendidikan Komputer di tahun 1999, Akademi Manajemen Ilmu Komputer di tahun 1999, Lembaga Akademi Maritim di tahun 2000, dan Lembaga Bahasa Inggris di tahun 2000.Ke daerah-daerah dia aktif melebarkan usaha mendirikan bank perkreditan rakyat (BPR) untuk memberikan kredit bagi setiap orang yang membutuhkan uang untuk modal usaha. Beberapa BPR sudah dia dirikan. Antara lain, BPR Sumber Pangasean di Cikampek, Jawa Barat berdiri tahun 1992, BPR Sumber Hiobaja di Baki, Solo, Jawa Tengah tahun 1993, BPR Sumber Sibapudung di Cirebon, Jawa Barat tahun 1993, BPR Sumber Tiopan Raya di Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara tahun 1993, dan BPR Sumber Lumban Mual di Citereup, Bogor, Jawa Barat tahun 1993. Aktif berorganisasiUntuk memperluas cakrawala pemikiran serta agar selalu berada di lingkaran dalam para pelaku usaha jasa konstruksi dia melibatkan diri di sejumlah organisasi profesi. Malah tidak jarang dia diminta tampil sebagai pengurus inti. Misalnya, dia aktif di organisasi Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi), Perhimpunan Instalatur Air Minum Jakarta, Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI), Kadin Jaya dan Kadin Indonesia, Asosiasi Asphalt Beton DKI Jakarta, Anggota Dewan Penyantun Universitas Bukit Barisan Medan, Sumatera Utara, bahkan hingga Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (Wanhankamnas).Pengusaha sukses yang di tahun 1984 pernah diangkat sebagai Staf Deputi Pembangunan Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (Wanhankamnas) ini, di tahun 1980 memperoleh penghargaan berupa gelar doktor honoris causa dari Jhon Dewey University Consortium, AS. Dan di tahun 1993 masih dari universitas yang sama dia memperoleh lagi gelar profesor. Selain tercatat beberapa kali memperoleh medali penghargaan pendidikan, di tahun 1994 Tarnama dinobatkan sebagai “Tokoh Pendidikan” dalam acara Men of The Year 1993-1994 yang didasarkan karena tingginya tingkat kepedulian dia mengembangkan dunia kependidikan.Bidang lain yang kerap kali pernah memberi dia penghargaan atas keterlibatan aktif dan dedikasinya adalah bidang seni budaya, bidang usaha, bidang keagamaan, bidang pemerintahan, dan bidang olahraga.

Di bidang seni budaya pada tanggal 23 April 1985 Tarnama memperoleh gelar kehormatan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dari Keraton Solo, Surakarta. Saat itu, adalah bersamaan hari ulang tahun Kasunanan Pakubuwono XII dia memperoleh penobatan gelar bangsawan Jawa dalam sebuah upacara kebesaran adat Keraton Surakarta. Sejak itu resmilah nama lengkap dia menjadi Kanjeng Raden Tumenggung DR. Tarnama Sinambela Kusumonagoro.Namun persis sembilan tahun kemudian, pada tahun 1994 dari sumber yang sama yaitu Keraton Surakarta dia kembali memperoleh gelar kehormatan kebangsawanan. Kali ini lebih bergengsi yaitu Kanjeng Raden Hario Tumenggung. Sehingga, nama lengkap dia sekarang adalah Prof. DR. Kanjeng Raden Hario Tumenggung Tarnama Sinambela Kusumonagoro. Jika gelar bangsawan Jawa pernah dia peroleh, sebaliknya kepada seorang putra Jawa dia bersama tetua adat pernah pula menganugerahkan sebuah marga yakni Sinambela kepada Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo pada bulan Oktober 1981. Dasar pemikirannya, Tjokropranolo adalah seorang tokoh yang banyak mengabdi kepada kepentingan masyarakat luas.

Hal itu dibuktikan oleh mulai tukang becak, pedagang kaki lima yang berdagang beratapkan langit maupun tenda-tenda, demikian pula anak-anak, orang tua hingga masyarakat intelektual semua mengenal siapa gubernurnya yaitu Tjokropranolo.Tarnama kakek dari beberapa orang cucu yang di tahun 1987 pernah dinobatkan sebagai pria berbusana terbaik, pada tahun sama 1987 itu dia pernah memperoleh penghargaan dari Lembaga Sisingamangaraja XII atas peran sertanya mensukseskan pelaksanaan Peringatan 10 Windu Wafatnya Pahlawan Sisingamangaraja XII.Pengusaha terkenal itu juga pernah dianugerahi beragam penghargaan khusus di bidang dunia usaha. Dia antara lain pernah dinobatkan sebagai salah satu Pahlawan Wiraswasta dalam buku Profil 10 Pengusaha Indonesia, yang terbit tahun 1992. Kemudian, pada tahun 1994 dinobatkan sebagai Putra Penerus Pembangunan Bangsa oleh Yayasan Pengembangan Mode Forum dan Budaya Indonesia.Dia begitu intens membantu kegiatan kerohanian terlihat dari besarnya peran dan kontribusi yang pernah dia berikan. Cerita di masa muda bahwa setiap hari Minggu tak pernah terlewatkan tanpa berbakti kepada Tuhan di Gereja bukan isapan jempol belaka. Bahkan, pengusaha kuat ini ditopang oleh seorang istri yang kuat pula Damaris br. Tampubolon yang dia “ketemukan” saat-saat bersentuhan dengan Tuhan di Gereja. Mereka menikah tahun 1963 saat usia dia masih 20 tahun. Sederetan penghargaan dari berbagai denominasi gereja pernah dia terima.

Deretan yang sama panjang pernah pula dia terima di bidang pemerintahan.. Tarnama yang dahulu biasa mengendarai scooter Vespa tua.miliknya hilir mudik dari rumah ke kantor, ke instansi pemerintah dan swasta pemberi proyek, serta ke lokasi proyek-proyek yang sedang dikerjakan adalah Tarnama yang masih sama dengan sekarang yang penuh dengan kerendahan hati dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang berubah pada dia walau namanya sungguh sudah benar-benar ternama di antara elit pengusaha nasional sesuai keinginan sang ayah saat memberinya nama Tarnama Sinambela. “Bapak gurunya” di bidang konstruksi Roosseno menyebutkan dibutuhkan ribuan putera-puteri Indonesia seperti Tarnama Sinambela yang mau berpartisipasi mendukung usaha pemerintah d bidang pembangunan fisik maupun dalam usaha mencerdaskan bangsa.Letnan Jenderal ((Purn) Tjokropranolo, Gubernur DKI Jakarta 1977-1982 yang banyak memberi dia kesempatan mengembangkan diri menjadi pengusaha pribumi yang berhasil memberikan pujian yang senada.

Gubernur Tjokro pengganti Ali Sadikin itu menyebutkan, sebagai orang yang lebih tua selalu memberi nasehat dan anjuran-anjuran kepada Tarnama Sinambela agar di dalam setiap investasi yang ditanamkan untuk pengembangan perusahaan tidak lupa memikirkan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga, pengembangan perusahaan itu dapat membuka lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga Indonesia yang belum memperoleh kesempatan bekerja.►ht

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

H Mudyono bersama KRT Tarnama Sinambela Kusumonagoro, calon Gubernur Sumatera Utara pada acara pemilihan Gubernur Sumatera Utara di gedung DPRD Sumatera Utara, Medan, 1993. [TEMPO/ Munawar Chalil; 16D/313/1993; 20020730].
RENCANA KOTA MAHASISWA
(STUNDENT CITY PLAN)

I . LATAR BELAKANG PEMIKIRAN

Lokasi Kampus suatu Universitas atau Lembaga Pendidikan Tinggi pada umumnya berada di daerah perkotaan atau di pinggiran kota dengan memanfaatkan sarana dan prasarana kota diantaranya transportasi kota yang dapat mendorong kemudahan untuk menuju ke lokasi kampus.

Sedangkan sarana dan prasarana kampus difasilitasi sedemikian baik untuk menunjang pelaksanaan pendidikan agar proses pelaksanaan pendidikan berjalan dengan baik dan menghasilkan alumni yang berguna bagi masyarakat.


Namun demikian meskipun terdapat sarana dan prasarana kota, sarana dan prasarana kampus yang baik dan manajemen pengeloaan pendidikan yang baik masih dirasakan adanya kekurangan untuk dapat menghasilkan alumni yang berprestasi baik.

Kondisi demikian kemungkinan disebabkan oleh kondisi kota yang sudah sangat kompleks dari berbagai masalah polusi udara, kemacetan lalu lintas, banjir dan lain sebagainya sehingga baik tenaga pengajar maupun mahasiswa sudah cukup lelah setelah sampai kampus.Akibat dari keadaan tersebut proses belajar mengajar menjadi tidak optimal karena sudah jenuh dengan berbagai permasalahan tersebut.

Dengan adanya keadaan tersebut diatas timbul pemikiran bahwa pelaksanaan proses belajar mengajar suatu perguruan tinggi akan lebih baik hasilnya bila dapat dilaksanakan pada suatu lokasi yang berada tidak di tengah kota melainkan pada lokasi yang layak baik di lihat dari aspek lingkungan, kenyamanan menuju dan menghadiri kuliah, proses belajar dan mengajar berjalan dengan iklim yang baik serta terpenuhinya semua fasilitas kebutuhan mahasiswa, tenaga pengajar, karyawan suatu institusi pendidikan tinggi.

Untuk menjawab tantangan tersebut diatas maka lembaga pendidikan tinggi akan lebih baik bila berada di suatu komunitas khusus misal seperti Tsukuba Science City di Jepang atau lokasi Kampus Indian Institute of Technology meskipun berada di daerah perkotaan tapi berada dalam suatu komunitas tersendiri

Berdasarkan pola pikir tersebut diatas maka Universitas Mpu Tantular ingin mewujukan mendirikan kampus dalam komunitas khusus yang akan disebut sebagai Kota Mahasiswa ( Student City) yang berlokasi di daerah Cariu, Jonggol Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat.

II. MAKSUD DAN TUJUAN RENCANA PEMBANGUNAN KOTA MAHASISWA

Maksud dan tujuan pembangunan Kota Mahasiswa yang berupa kampus dengan fasilitas lengkap untuk komunitasnya oleh Universitas Mpu Tantular, secara umum adalah berkeinginan berperan serta dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa agar berguna bagi masyarakat dan negaranya. Sedangkan tujuan secara khusus Universitas Mpu Tantular bercita-cita mengembangkan institusi pendididikan tinggi ini agar memperoleh lulusan yang berprestasi baik dan akhirnya memperoleh penghargaan masyarakat setara dengan institusi pendidikan tinggi yang sudah lebih maju di Indonesia dan bahkan dapat mengejar prestasi seperti lembaga pendidikan tinggi di negara maju.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka Universitas Mpu Tantular ingin mengembangkan pendidikan yang berlokasi pada suatu lingkungan atau komunitas khusus yang berada di daerah Kecamatan Cariu, Jonggol, Bogor Propinsi Jawa Barat yang memiliki kondisi lingkungan masih alami, sehat dan belum berpolusi yang diharapkan dapat menunjang proses belajar mengajar yang nyaman dan cukup memadai untuk mencapai hasil lulusan dengan prestasi baik.

III.PERENCANAAN KOTA MAHASISWA DI JONGGOL

Rencana lokasi Kota Mahasiswa Universitas Mpu Tantular dapat dicapai melalui jalan masuk yang panjangnya sekitar 6 km dari jalan alternatif Jakarta – Bandung lewat Jonggol. Pada lokasi ini lingkungannya masih sangat bersih dengan suasana perbukitan yang menarik dan udara yang relatif sejuk. Jalan masuk menuju kampus akan dibangun menyambung jalan desa dan direncanakan dibuat satu arah dan jalan keluar kampus melalui jalan tersendiri satu arah yang juga menyambung jalan desa tersebut dengan disain menyesuaikan keadaan topografi sehingga keindahan alami dapat dirasakan pada lokasi tersebut.

Perencanaan prasarana fisik infrastruktur dan gedung kampus serta pembangunan fisik fasilitas penunjang lainnya akan dibuat dengan standar yang memadai untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan dengan memperhatikan aspek konservasi dan penataan lingkungan kampus yang baik dan serasi sehingga menjadi tempat yang tidak hanya baik dan nyaman untuk belajar bagi para mahasiswanya tapi juga nyaman sebagai tempat tinggal dan juga menarik sebagai tempat rekreasi dan berlibur.

Penataan kampus atau kota mahasiswa akan dibagi dalam beberapa zona dengan memperhatikan topografi, kontur, sinar matahari dan aspek lingkungan lainnya yang pada dasarnya terdiri dari zona-zona sebagai berikut :

1) Konservasi hutan lindung buatan dan penghijauan,
2) Penataan ruang atau blok plan pembangunan fisik gedung kampus yang meliputi; Rektorat, ( Ruang kantor pengelola Universitas, Menza / Gedung Pertemuan dan Perpustakaan Pusat ), Gedung Fakultas, ( Ruang kantor pengelola fakultas, Ruang kuliah, Perpustakaan fakultas, Ruang Laboratorium, dan Laboratorium lapangan),
3) Blok plan pembangunan komunitas kampus yaitu ; Asrama mahasiswa, perumahan dosen dan karyawan, kantin mahasiswa, tempat ibadah (masjid/gereja/lainnya), mini market dan rumah toko (rumah makan/wartel/warnet/fotocoky/pengetikan/dll)
4) Blok plan gedung fasilitas lainnya yaitu; Gedung Instalasi, Pos keamanan, Pos Pemadam Kebakaran, Loundry dan lain sebagainya,
5) Blok plan fasilitas olah raga dan rekreasi antara lain; lapangan sepak bola, bola volly, tenis lapangan, bulu tangkis, kolam renang, lapangan bermain anak, landskaping taman dan pemancingan,
6) Pembangunan rencana infrastruktur yang meliputi jalan masuk dan keluar kampus, jalan lingkungan kampus, penerangan jalan lingkungan, saluran telepon dan saluran drainase lingkungan.

Semua penjelasan tersebut diatas sebagaimana dapat dilihat pada sketsa gambar Peta jalan masuk dan Penataan Blok plan/Site plan Kota mahasiswa mpu Tantular terlampir.

IV. PEMBIAYAAN DAN TAHAPAN PEMBANGUNAN

Pembangunan akan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan tersedianya pembiayaan dan akan dilakukan berdasarkan urutan prioritas agar pelaksanaan pembangunan dapat berjalan dengan tepat, cepat, efisien dan efektif untuk pemanfatannya.

Berdasarkan rencana pembangunan yang besar tersebut akan diperlukan biaya yang cukup besar sehingga untuk menangani dan mengatasi pembiayaan ini Yayasan Pendidikan Bhudi Murni Universitas Mpu Tantular membuka tangan dan menerima bantuan atau sumbangan (grand) dari semua stake holder atau Instansi Pemerintah/ Swasta sebagai donatur yang peduli terhadap masalah pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.

Tobasa,
Meski masih berusia kurang dari 5 bulan, Kec. Siantar Narumonda Kab. Toba Samosir telah memiliki kantor camat yang megah dan permanen. Bangunan Gedung Kantor Camat Siantar Narumonda ini merupakan sumbangan (hibah) dari Prof. DR. Kanjeng Pangeran Tarnama Sinambela Kusumonegoro, seorang perantau asal Siantar Narumonda yang juga pengusaha sukses di Jakarta dan manca negara.
Bupati Tobasa Drs. Monang Sitorus,SH,M.BA pada saat peresmian menyampaikan ucapan terima kasih kepada para anak rantau Kab. Tobasa yang telah berpartisipasi selama ini dan secara khusus kepada KPT Sinambela beserta keluarga atas bantuannya berupa bangunan senilai lebih dari Rp. 500 Juta. Bupati menjelaskan bahwa saat ini Pemkab Tobasa serius untuk meningkatkan pembangunan ekonomi kerakyatan dan bukan sesuatu yang sifatnya mercu suar. Untuk itu bupati mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mau bekerja sama dan bekerja keras agar lahan-lahan tidur dapat segera terolah yang menurut data seluas 40 ribu hektar yang tersebar di seluruh Tobasa untuk dapat ditanami dengan tanaman jagung dengan sistem atau sewa dan diinformasikan juga bahwa bibitnya dapat diambil dari Dinas Pertanian Tobasa secara gratis.
Bupati Monang Sitorus juga mengajak seluruh para perantau asal Tobasa untuk mau membantu percepatan pembangunan daerah di Tobasa, termasuk pembangunan rohani di samping fisik dan pengadaan materi. Hal ini telah dibuktikan sejak lama para anak rantau termasuk DR. Sutan Raja D.L. Sitorus yang telah menyumbangkan mobil dinas Camat Siantar Narumonda dan pengadaan meubiler kantor camat yang baru diresmikan ini dan juga telah menyumbangkan secara hibah bangunan Gedung Kantor Camat Silaen, Balai Desa Sibisa, Gedung SD Unit Baru Sibisa, dll yang diperkirakan seluruhnya lebih dari Rp. 5,2 Milyar sejak pelantikannya menjadi Bupati Tobasa. Untuk itu bupati meminta agar warga masyarakat memelihara dan memanfaatkan seluruh bangunan dimaksud semaksimal mungkin untuk kemakmuran rakyat agar para anak rantau yang memberi perhatian tidak kecewa.Pada kesempatan itu, tokoh adat Siantar Narumonda memberikan seperangkat adat Batak Toba kepada Prof. DR. KPT Sinambela dan ibu Boru Barimbing beserta ”adindanya” Mr. Dean C. Jansen Sinambela dan ibu Boru Marpaung serta ulos kepada rombongannya.Sebelumnya, Prof. DR. KPT Sinambela beserta ”adindanya” Mr. Dean C. Jansen Sinambela menandatangani prasasti penyerahan Gedung Sekolah Minggu HKBP Pardamean dan Gedung Sekolah Minggu Katholik Pangasean Siantar Narumonda yang juga merupakan sumbangannya kepada masyarakat Tobasa dilakukan penandatanganan prasasti peremian Kantor Camat oleh Bupati Tobasa Monang Sitorus disaksikan Uspida Tobasa dan ratusan masyarakat yang hadir dan dalam sambutannya mengajak masyarakat untuk membantu pemerintah mempercepat laju pembangunan.Hadir pada peresmian tersebut Sekdakab Liberty Pasaribu,SH,M.Si, Anggota DPRD Tobasa Drs. Vespasianus Panjaitan, Kapolres Tobasa AKBP Alisman Nainggolan, Kajari Balige Panjaitan Manihuruk,SH, para pejabat Pemkab Tobasa, Camat Siantar Narumonda Drs. A.M. Sitorus,SH dan para camat se-Tobasa, serta ratusan warga masyarakat sekitar Siantar Narumonda.Acara peresmian ini dirangkai dengan penyerahan sertifikat tanah Proda Kab. Tobasa serta penyerahan bibit jagung kepada para petani yang lahannya sudah siap ditanam.
Acara peresmian beralangsung hari senin, 5 mei 2007

Jakarta, 17 April 2005

Kehadiran warga HKBP di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk sepatutnya membawa kesejukan bagi masyarakat sekitar. Demikian dikatakan Sekjen HKBP Pdt W.T.P. Simarmata, MA dalam Diskusi Sekitar Peran Sosial Gereja yang berlangsung di HKBP Jl. Sudirman, Jakarta Selatan, Sabtu, 16 April 2005 yang lalu.

Dalam diskusi yang dihadiri semua parhalado dan tokoh HKBP Ressort Jl. Sudirman Jakarta itu, Sekjen HKBP mengatakan bahwa perbedaan adalah berkat Tuhan yang memperkaya bangsa Indonesia. Dengan demikian, katanya, semua unsur masyarakat yang berbeda-beda bisa saling melengkapi dan saling mengisi bukan untuk memisahkan kita satu sama lain.
Dalam bagian lain, Pdt Simarmata mengatakan bahwa sudah sejak awal berdirinya Gereja berperan sebagai penggerak dan pemberi motivasi untuk membawa kehidupan yang lebih baik kepada warga masyarakat dalam bidang pembinaa spiritual, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Oleh karena itu, peran serta warga jemaat perlu semakin diakomodasi untuk ikut serta dalam tugas pelayanan gereja. Dalam pada itu, Sekjen HKBP menyatakan rasa syukurnya bahwa HKBP Jl. Sudirman Jakarta telah memiliki gedung baru untuk pelayanan warga jemaat. Gedung baru tersebut merupakan persembahan keluarga K.R.T. Tarnama Sinambela dengan nilai keseluruhan Rp 700 juta.
Perlu ditambahkan bahwa pada ibadah Minggu, 17 April 2005, gereja HKBP Jl Sudirman Jakarta itu mengadakan persembahan khusus untuk membantu korban bencana gempa bumi di Sumatera Utara, khususnya di Nias. Sekjen HKBP merasa terharu karena anak-anak Sekolah Minggu setempat ikut memberikan persembahan untuk meringankan beban para korban. Sebagaimana diketahui, bencana gempa bumi tersebut juga melanda daerah-daerah Sarulla, Samosir, Balige, Sibolga, Baktiraja, Dairi, dan Sumatera Barat.
[Biro Informasi HKBP, informasi@hkbp.or.id]