Dilahirkan di desa Pangasean, Porsea Sumatera Utara pada 15 Juli 1943.Tarnama Sinambela be
rasal dari keluarga yang berada dan terpandang di desanya, namun hal itu tidak membuatnya manja, ia selalu hidup apa adanya dan tidak banyak menuntut., anak bungsu dari tujuh bersaudara ini dari kecil sudah dibiasakan untuk bekerja keras dan pantang menyerah. ia sangat sedih dengan keadaan sulitnya pendidikan pada masanya, dimana ia harus berjalan sejauh 10 km ke sekolahnya di desa Narumonda tanpa menggunakan sendal atau sepatu.
Beranjak remaja, berbekal ijazah SMA, dan uang hasil penjualan bebek peliharaannya Tarnama Sinambela merantau ke Jakarta untuk mendaftar sebagai calon Taruna TNI Angkatan Udara di Lanuma Solo, namun karena adanya kasus memukul instruktur yang dibuat oleh seorang temannya, maka Sinambela pun kena getahnya dan dinyatakan gugur.
Tarnama Sinambela harus rela melepaskan cita-citanya tersebut, cita-cita yang sangat ia dambakan dari kecil.Namun Tarnama Sinambela tidak patah semangat, dengan tekad yang bulat membaja ia kembali ke Jakarta, kota yang menjanjikan bagi siapapun yang mau bekerja keras dan pantang menyerah.
Berbagai macam pekerjaan telah Tarnama Sinambela jalankan, dari menjadi pelayan hotel Indonesia sebagai Food & Beverage, Penyelundup Pakaian, Penyelundup Petasan, sampai menjadi asisten sekaligus murid dari seorang Prof. Rooseno seorang ahli beton bertulang..
Semangat Tarnama Sinambela tidak pernah padam, dengan diiringi dorongan dan doa dari sang istri tercinta Damaris br. Tampubolon yang ia nikahi pada tahun 1963 serta kedua anak tercinta yang pada saat itu masih kecil, Budi Parlindungan Sinambela dan Santo Mulya Sinambela, membuat semakin berkobar semangat Tarnama Sinambela untuk terus memperbaiki kehidupan. Berbagai kegagalan telah ia temui, namun itu tidak membuat ia jera namun sebaliknya semakin membuat Tarnama Sinambela tertantang untuk menemukan jalan keberhasilan dari kegagalannya tersebut.
Pada tahun 1970 Tarnama Sinambela mulai melakukan wirausaha dengan membuka toko leveransir.Sebagai jawaban atas pesatnya pembangunan yang dicanangkan pemerintah pada waktu itu, Tarnama Sinambela mulai berfikir untuk menjadi pemborong dan dibukalan CV. SUMBER BATU.
Menuai hasil kerja keras, pundi-pundi uang Tarnama Sinambela terisi terus.Disamping menabung, ia juga rajin menanam investasi, utamanya membeli lokasi pertanahan yang dianggapnya memiliki prospek bagus.
Tahun 1974 CV. Sumber Batu ditingkatkan statusnya menjadi perseroan (PT. Sumber Batu).Ini dilakukan untuk menyesuaikan kondisi dan klasifikasi perusahaan dengan proyek-proyek yang akan ditanganinya.
Pemikiran Tarnama Sinambela dalam menjalani usaha terus berkembang, tahun 1978 ia membangun Industri Asphalt Mixing Plant yang berlokasikan di cakung Jakarta Timur. Karena order proyek semakin bertambah dan PEMDA DKI memberi peluang untuk menangani pekerjaan rutin jalanan di wlayah DKI, maka Tarnama Sinambela membangun Industri Asphalt Mixing Plant yang ke II pada tahun 1980.Dengan demikian kapasitas produksi dapat dilipatgandakan dari 300 ton menjadi 600 ton per hari. Tidak sampai disitu, pada tahun 1984 Tarnama Sinambela pun mendirikan Concrete Batching Plant, industri ini khusus bergerak dalam pengadukan bahan-bahan dasar beton.
Pengalaman pahit mengenyam pendidikan masa kecil di desa, membuatnya berfikir untuk berpartisipasi dalam bidang pendidikan.Maka pada tahun 1976 ia mendirikan Yayasan Budi Murni dan sekaligus mendirikan dua sekolah yang masing-masing berlokasi di Cipayung Pasar Rrebo dan Kelurahan Kedoya Jakarta Barat.
Dua tahun kemudian, yayasan itu mulai menyelenggarakan berbagai strata pendidikan, mulai TK, SD, SMP, SMA dan STM. Murid yang tertampung ketika itu 1200 orang.Sebuah jumlah yang lumayan besar tentunya dari sebuah cita-cita yang hanya sekedar untuk berpartisipasi dalam bidang pendidikan.
Melihat perkembangan sekolahnya cukup signifikan, Tarnama Sinambela mulai memikirkan konsep untuk mendirikan perguruan tinggi swasta.Gagasan ini lahir ketika Tarnama Sinambela menyadari bahwa urgensi sebuah perguruan tinggi sangat penting bagi kelanjutan untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa.
Untuk mewujudkan gagasannya itu, pada tahun 1984 bersama beberapa orang sahabatnya, Tarnama Sinambela mendirikan perguruan tinggi dan sepakat memberi nama Universitas Mpu Tantular., dengan Rektor Pertamanya Prof. DR. W.B. Sidjabat
Mahasiswa pertama yang tercatat pada saat pembukaan Universitas Mpu Tantular sejumlah 165 orang. Artinya, animo masyarakat cukup bagus menanggapi kehadiran Universitas baru itu.
Guna meningkatkan mutu pendidikan, langkah yang ditempuh Tarnama Sinambela adalah melakukan kerjasama dengan JOHN DEWEY university USA. MOU (Memorandum of Understanding) antara Sinambela dengan Prof. Dr. Edward C yang berisi kesepakatan untuk tukar menukar mahasiswa dan pengadaan buku-buku serta fasilitas pendidikan lainnya.
Cita – cita Tarnama Sinambela
“ Saya bercita-cita membangun sebuah kota mahasiswa.Saya perlu tanah seluas 500 hektar.Jadi kampus yang dibangun itu nantinya lengkap, terpadu sesuai kebutuhan mahasiswa.Disitu ada mesjid, gereja, salon, kolam renang, super market, toko buku, sarana olahraga, restaurant, laboratorium, dan perangkat-perangkat pendukung yang diperlukan oleh mahasiswa.Jadi, mahasiswa tidak perlu keluar dari kampus.Semuanya sudah disediakan, dan mereka di asramakan “
Cita-cita Tarnama Sinambela ini tentunya merupakan akumulasi sebuah gagasan besar yang sangat ambisius.Sementara itu, kiprahnya dalam dunia pendidikan memang tidak meragukan.Komitmennya menyediakan dan membangun sarana pendidikan setiap saat dibuktikan.Sudah puluhan sekolah telah dibangunnya.Bahkan juga sudah menyiapkan tiga buah gedung masing-masing berlantai delapan untuk Universitas Mpu Tantular miliknya.
Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Tarnama Sinambela telah menyiapkan tanah seluas hampir 500 hektar dengan yang mendukung untuk membangun sebuah kota yang aktifitas utamanya proses belajar mengajar.
Terletak diantara perbatasan Bogor dan Cianjur tepatnya di Kecamatan Cariu Kabupaten Bogor Jawa Barat. Sebuah lokasi yang cukup cocok untuk berdirinya sebuah kota pendidikan karena alamnya yang asri dan tenang.
Berbagai persiapan sedang dilakukan untuk mewujudkan kota pendidikan ini dan tentunya membuka peluang sebesar-besarnya bagi yang ingin ikut berpartisipasi dalam pembangunan kota mahasiswa ini .
Setiap warga Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi tidak perlu keluar negeri , karena di kota mahasiswa telah mendatangkan dosen dari Universitas-universitas yang terkenal di luar negeri.
Konsep yang di adaptasi dari Jerman oleh Prof. DR. Kanjeng Pangeran Tarnama Sinambela Kusumonagoro ini telah melalui perjalanan dan survey yang panjang, sehingga diharapkan KOTA MAHASISWA merupakan pusat dari bentuk kota kampus yang bisa dibanggakan oleh bangsa Indonesia.
& Komentar
15 Agustus 2007 pukul 4:33 am
Tolong dirikan sekolah dan universitas Empu tantular di kota medan- sumatera utara
28 Maret 2009 pukul 2:46 am
Jakarta, 28 Maret 2009
Syaloom amang Prof DR KRT SInambela.
Perkenalkan saya Arles Ompusunggu, alumni S3 Ilmu Ekonomi Kekhususan Manajemen Bisnis UNPAD tahun 2007. Sekarang bekerja di Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Palmerah.
Saya sangat terisnpirasi dengan kegigihan Bapak mengembangkan SDM melalui Universitas M pu Tantular. Kiranya kalau Bapak memberi kepercayan kepada saya untuk membantu mengembangkan Program PascaSarjana MM dengan segala kemampuan saya akan dedikasikan sebagai staf pengajar tidak tetap.
Hormat saya.
Arls Ompusunggu
13 April 2009 pukul 8:19 pm
Sdr. Tarnama Sinambela
bagaimana anda dapat menjadi panutan sedangkan secara kejiwaan anda sakit! Pimpinan yang sakit jiwa. Pada saatnya anda akan kena batunya.
14 November 2009 pukul 4:22 am
apa alasan anda mengatakan sdr. Tarnama sakit jiwa?
apakah anda pernah dilukai?
apa yang dia perbuat terhadap anda?